CITY OF MUSIC


Ambon, Maluku : Dari Budaya Sampai Ciri Khas

City of music adalah julukan untuk kota Ambon yang berada di provinsi Maluku. Julukan yang disematkan bukan tanpa alasan, berdasarkan latar belakang begitu banyak legenda musik tanah air yang memang terlahir di kota tersebut. Glend Fredy salah satu musisi ternama yang berdarah Ambon. Alasan lainnya karena begitu banyak masyarakat Maluku yang sudah memiliki bakat musik secara lahiriah. Hal tersebut juga disampaikan oleh pemerintah kota Ambon bahwa musik merupakan upaya keras dari berbagai pihak masyarakat Ambon yang menjadikan musik sebagai salah satu media pemersatu yang tidak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Ambon. Sehingga pada oktober 2019 kota Ambon resmi ditetapkan oleh UNESCO sebagai City of music. 
Berikut ini beberapa ciri khas budaya di Maluku:

Tarian Cakalele

Tarian cakalele dimainkan dengan parang dan perisai yang hanya dilakukan oleh masyarakat desa setempat karena tariannya cukup berbahaya maka tidak sembarang orang luar bisa untuk memainkannya. Ciri khas dari cakalele diekspresikan dalam gerak dan kostum yang dikenakan, pakaian yang digunakan dari alumunium dengan tombak di sebelah kiri serta salawaku ditangan kanan. Tarian dimainkan dengan kurang lebih 30 pria dan wanita, yang menjadi simbol perwujudan patriotisme rakyat maluku. Parang dan salawaku (perisai) yang berada di samping kanan dan kiri merepresentasikan martabat rakyat serta bentuk protes terhadap sistem pemerintahan yang tidak memihak kepada rakyat. Pada masa sekarang ini cakalele hanya diterapkan ketika penyambutan tamu dan acara adat setempat.

Pukul Sapu


Baku pukul manyapu sebutan oleh masyarakat setempat dalam atraksi dari budaya khas maluku ini. Atraksi dimulai dengan bunyi tiupan suling, kemudian kelompok bercelana merah memukul terlebih dahulu ke badan kelompok hijau atau sebaliknya dari kelompok celana hijau. Tradisi pukul sapu ini dipandang sebagai alat untuk mempererat tali persaudaraan, yang erat kaitannya dengan sejarah masyarakat setempat dalam perjuangan melawan para penjajahan Portugis dan VOC di tanah Maluku. Keunikan dalam atraksi ini adalah para peserta tidak merasakan sakit sama sekali meskipun sudah berdarah-darah sebab dari pukulan urat lidi. Untuk alasan peserta atraksi tidak mengalami rasa sakit sampai sekarang ini masih menjadi tanda tanya, tetapi alasan tesebut sudah dipastikan tidak ada kaitannya dengan dunia mistis atau alam ghaib. 

Makan Patita


Makan patita merupakan tradisi makan bersama dalam jumlah yang sangat besar dengan maksud untuk memperarat kekeluargaan. Budaya patita ini hanya dilakukan dihari-hari penting saja seperti halnya  pembangungan tempat ibadah ataukah ulang tahun kota Ambon. Pada dasarnya tradisi ini biasanya diadakan oleh masyarakat dua tahun sekali yakni pada awal tahun dan penghujung tahun. 

Komentar

Postingan Populer